MENGENAL TUHAN


DARI TUHAN MENUJU TUHAN
(Salah Satu Alasan Integrasi Pengetahuan}
Umumnya kalangan Sufi yang beraliran Tasauf Falsafi {Irfani} selalu berangkat dari kesadaran terhadap Firman Allah di bawah ini.
”Aku adalah perbandaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk.” Hadits Qudsi.
Mereka menyadari bahwa Allah mencipta bukan karena berhajat untuk dikenal. Akan tetapi karena itulah salah satu sifat yang melekat pada Zat-Nya yang Agung dengan sendirinya tidak dapat tidak wajib (Tidak tertolak akal) hadirnya Seluruh Makhluk. Sama persis dengan hukum logika manusia yang hidup wajib diterima pikiran bahwa dia bernafas. Diantara ciptaan-Nya adalah makhluk manusia. Kata Ibn Arabi. Ayat 56 dari Az-zariat bahwa makna LIYA'BUDUN adalah LIYA'RIFUN. Maka dalam hidup manusia mesti secara akurat mengenal, memahami dan mengetahui Tuhan. Bahkan hingga dalam akhir hidupnya wafat dalam keadaan ma’rifah’
Jalan yang harus dilalui manusia dalam mengenal, memahami, mengetahui Tuhan dengan segala sifat dan kebesaran-Nya, maka mesti mendatangi (menliti) 2 tempat. Manakah tempat itu ?. tempat itu adalah:
1. Alam Ciptaan-Nya (Kauniyah). Disana ada karya maha dahsyat Tuhan. Proses menggali (Iqra’-Al-Alq 1-6) itu muncul berbagai kesimpulan teoritis hingga menjadi Ilmu Pengetahuan,  sepert Biologi, Fisika, Kimia, Astronomi dll (Ulumul Kauniyah). Bila di Alam manusia ada muncul Psikologi, Sosiologi dsb (Ulumul Insaniyah). Kesemuanya adalah punya Tuhan dan masing masing memiliki cara hidup (Hukum-Tuhan-Sunnah Allah di alam-Takdir).
2. WAHYU, Qoul-qoul Allah ini banyak menjelaskan Diri-Nya, Ciptaan-Nya, Syari’at-Nya termasuk seluruh Alam, Manusia, hingga Alam Gaib-Akhirat. Banyak memberi Tuntunan bertuhan, beribadah, bersosial, beralam lingkungan. Kedua fenomena atau hasil penelitian pada dua objek ini ternyata keduanya sinergis dan tidak di pisah. Pendalaman atau penelitian pada Wahyu ini melahirkan ilmu alat seperti bahasa Arab dengan segala seluk beluknya, Aqidah, Fiqih dengan segala cabangnya, Akhlak, Tasauf dll (Ulumud Diniyah). Dan juga wahyu sangat banyak mendorong untuk mengelola akal. Bahkan tidak ada agama bagi yang tidak mengembangkan akalnya (Pengakuan Mereka yang masih dekat dengan Nabi saw). Bahkan bila dipisah sangat  berisiko, begitu banyak ayat mengungkapkan dalam bentuk pertanyaan bila ummat berbuat tak baik (apakah kamu tidak pergunakan akalmu?).
Dalam mengantarkan pemahaman akan eksistinsi Allah kedua bentuk Pengetahuan di atas (Kauniyah-Insaniyah dan Diniyah) dibutuhkan dan akan sangat melengkapi. Maka sikap yang menjauhi salah satu dua Ilmu Pengetahuan tersbut akan gagal menjadi mukmin dan muslim yang baik (Kaffah). Bukan saja berhenti disitu, bahkan yang abai dalam mebangun peradaban dengan dua fondasi Ilmu tsb maka muncullah peradaban yang tidak demikian maslahat. Bahkan akan mendatangkan mala petaka. Sebab secara aksiologisnya kedua ilmu itu disamping Ilmu ilmu itu media untuk kenal Allah, juga untuk kebutuhan praktis hidup, agar harmonis, sejahtera dan berkemakmuran dalam ridhoNya.
Paradigma berpikir seperti inilah mungkin yang menjadi opsesi UIN Syahada dalam pola Integrasi Ilmu Pengetahuan yang dihajatkannya. Bila memang itu :Tentu butuh dukungan dari semua pihak. Bukan dukungan saja tapi harus tahan ancaman sebab siapa saja yang ikut mengusung ide-ide seperti ini akan berhadapan dengan relitas kehidupan hari ini yang sudah terjerat oleh Liberalisme baik Ekonomi dan Media Informasi serta Demokrasi Sekuler yang tidak ingin terikat nilai nilai abadi. Mohon maaf tulisan ini hanya sekilas renungan didorong oleh semangat belajar yang sudah menjadi tabi’at kita semua di PTKIN ini….

10 komentar: